Kekeringan Ekstrem di Jateng Diprediksi Hingga November
Ali Muntoha
Jumat, 20 September 2019 10:19:15
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, dengan panjangnya musim kemarau tahun ini, menempatkannya menjadi nomor dua. Rekor kemarau terpanjang terjadi pada 2015 lalu.
"Musim hujan tahun ini (diprediksi) mundur sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang. Musim kemarau tahun 2015 merupakan yang paling lama, dan tahun ini nomor dua," ujarnya.
Dengan kondii ini pihaknya meminta semua pihak untuk meningkatkan antisipasi. Terutama untuk mengurangi dampak kekeringan, seperti krisis air bersih.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah Sudaryanto memastikan, pihaknya telah melalukan langkah antisipasi untuk menekan dampak kekeringan ekstrem ini.
Terlebih menurutnya, kemarau ekstrem ini bisa menimbulkan kebakaran lahan maupun hutan. Seperti yang terjadi kawasan pegunungan di Jateng dalam beberapa waktu terakhir.
Pihaknya pun mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak membuang puntung rokok secara sembarangan. Khususnya saat berada di kawasan hutan, karena dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



