Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Monica Yulfarida, salah satu mahasiswa KKN Undip mengatakan, Desa Sidorejo saat ini memang dikenal dengan perkebunan bunga melati. Di desa ini, perkebunan tersebar di tiga dusun. Sayangnya, hasil panen dari bunga melati (kuncup) hanya dijual langsung ke pengepul dengan harga Rp 5 ribu hingga – Rp 7 ribu.

”Oleh pengepul, bunga melati digunakan sebagai bahan baku pembuatan teh dan sebagai ronceng untuk pernikahan. Namun, bagian bunga melati yang sudah mekar tidak layak untuk ikut dijual dan dibuang,” katanya.

Dari ia mencoba mencari solusi. Ia pun akhirnya menemukan cara pemanfaatan bunga melati yang tidak lolos sortir tersebut menjadi ekstrak melati. Dengan adanya ektrak tersebut, bunga melati dapat digunakan dalam berbagai hal dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu pemanfaatan ekstrak bunga melati tersebut adalah sebagai pewangi pada sabun.

”Peluang ini dapat dimanfaatkan dengan adanya pelatihan pembuatan sabun sebagai salah satu bentuk pemanfaatan limbah bunga melati itu” imbuhnya.

[caption id="attachment_182405" align="alignnone" width="1384"] Salah satu produk sabun melati buatan mahasiswa KKN Undip Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]

Akhirnya, ia mengenalkan sabun melati tersebut ke ibu – ibu PKK di desa setempat. Penentuan sasaran ini betujuan agar nantinya setelah adanya pelatihan pembuatan sabun, masyarakat di Desa Sidorejo dapat mengembangkan ide bisnis ini bahkan hingga terbentuk UMKM baru.

”Kami juga memberikan pelatihan pembuatan sabun secara langsung. Ternyata ini menarik perhatian peserta,” terangnya.

Ia menambahkan, untuk pembuatan sabun dengan ektrak melati ini juga tak begitu rumit. Untuk bahan-bahannya hanya terdiri dari soda abu (NaOH), air, dan minyak goreng.Langkah pertama adalah dengan mencampur air sebanyak empat gram dengan dua gram NaOH. Selanjutnya, minyak goreng sebanyak sembilan gram dicampur dengan larutan NaOH dan dikocok sampai mengental. Saat proses mengocok hampir selesai, pewangi ektrak melati ditambahkan.“Adonan kemudian di cetak dan ditunggu selama tiga jam untuk dapat digunakan sebagai sabun,” tandasnya.Nur Khasanah, salah satu peserta pelatihan mengaku antusias dan senang dengan adanya pelatihan pembuatan sabun ini.“Sangat menarik dan bermanfaat sekali dengan adanya pelatihan pembuatan sabun ini. Selain ilmu yang diberikan, pelatihan ini dapat menjadi langkah awal terbentuknya UMKM baru di Desa Sidorejo” tambah Ibu Nur Khasanah Reporter: Dani AgusEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler