Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pelakunya ternyata dua orang remaja yang masih duduk di SMKN 5 Kota Semarang. Mereka yakni DR (16) dan IB (16). Mereka adalah teman sekelas di SMK tersebut. Keduanya berhasil dibekuk jajaran Polrestabes Semarang, Senin (22/1/2018) tengah malam.

Dua remaja ini mengaku nekat membegal sopir taksi dan membunuhnya karena butuh uang untuk membayar SPP. Namun pengakuan para pelaku ini disayangkan kepolisian.

Karena menurut Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji, orang tua kedua pelaku terhitung orang yang mampu. Ini diketahui setelah pihak kepolisian memanggil orang tua masing-masing.

”Orangtuanya mampu, dan mengaku rutin memberikan uang SPP, nah ini nanti akan kami kembangkan dan dalami lagi motifnya,” katanya dalam jumpa pers, Selasa (23/1/2018).

[caption id="attachment_136384" align="aligncenter" width="715"] Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji saat jumpa pers kasus pembunuhan sopir taksi online[/caption]

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika para pelaku memesan taksi online milik korban melalui aplikasi dari rumah IB di daertah Lemah Gempal, Semarang Selatan, Sabtu (20/1/2018) sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka memesan taksi dengan tujuan Sambiroto, Tembalang.
"Sesampai di depan Citra Grand mereka eksekusi, satu duduk di samping sopir, satu di belakang, yang di depan bertugas mengajak ngobrol, yang belakang eksekusi. Korban tidak bisa berbuat apa-apa karena masih mengenakan sabuk pengaman dan konsentrasi menyetir," ujarnya.Tubuh korban lantas dibuang di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang. Sementara identitas barang dan milik korban diambil. Mobil korban Nissan Grand Livina kemudian ditinggal di Jalan Hos Cokroaminoto, Barusari Semarang, tujuannya jika kasusnya sudah reda mobil akan diambil.Tak hanya itu, HP milik korban juga disembunyikan dengan cara ditanam di kawasan Banjir Kanal Barat, dengan diberi tanda menggunakan bambu.Sementara itu, Kepala SMK 5 Semarang, Suharto kepada wartawan membenarkan jika kedua pelaku adalah siswa di sekolah tersebut. Menurut dia, keseharian dua pelaku juga tak mencolok dan tak pernah terlibat masalah."Keseharian mereka tidak bermasalah di sekolah. Tidak pernah kena surat peringatan. Prestasinya biasa saja dan mereka dari keluarga mampu secara ekonomi," terangnya.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler