Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Hanya tinggal bagian sayap saja yang belum dibuat. Meski belum jatih total, pesawat dengan ukuran mini yang dibuat pria yang biasa dipanggil Leo ini telah beberapa kali dilakukan ujicoba.

Namun ujicoba yang dilakukan baru berupa uji coba jalan mesin pendorong pesawat yang dilakukan dengan mengelilingi kawasan Solo Baru, Grogol. Uji coba terbang akan dilakukannya, jika bagian pesawat sudah jadi.

“Jika sudah ada sayap, saya akan melakukan uji coba terbang di landasan pacu di Pantai Depok, Bantul, DIY. Saya yakin bisa terbang karena sudah diperhitungkan secara teknis,” katanya dikutip dari Solopos.com, Rabu (7/2/2018).

Meskipun berbentuk pesawat, bahan bakar yang akan digunakannya bukan avtur layaknya pesawat pada umumnya. Melainkan menggunakan premium yang menjadi bahan bakar sepeda motor atau mobil.

Ia menyebut, bagian pesawat belum dibuat karena terkendala dana. Ia menyebut, dalam membuat pesawat ini ada empat bagian, yakni badan pesawat [fuselage], sayap [wing], belakang pesawat [empennage] serta roda pendarat. “Hanya sayap pesawat yang belum saya buat lantaran terkendala dana,” ujarnya.

Untuk membuat pesawat ini, ia mengaku sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 22 juta. Pesawat terbang rakitan Leo ini beratnya tak lebih dari 100 kilogram (kg) dengan panjang sekitar lima meter.

Sudah dua tahun Leo merakit pesawat ini. Bagian pesawat sebagian besar dibuat dari aluminium bekas dari salah satu kantor instansi pemerintah di Kota Solo. Menariknya, mayoritas bahan rakitan badan pesawat merupakan barang bekas atau rongsok.“Saya sering membeli spare part sepeda motor di Pasar Silir, Solo. Harganya lebih murah dibanding membeli di toko onderdil sepeda motor. Uang pribadi yang digunakan untuk merakit pesawat terbang Rp 22 juta,” ujar Leo.Leo terobsesi membikin pesawat terbang lantaran bermimpi melihat wilayah Soloraya dari langit. Dia belajar merakit pesawat terbang secara autodidak. Proses perakitan badan pesawat terbang tak dilakukan saban hari.Leo harus merampungkan pekerjaan memperbaiki mobil yang mogok atau barang-barang elektronik seperti televisi, komputer, dan kulkas. Saat memiliki waktu luang, Leo lantas merakit satu per satu badan pesawat.Waktu yang lama dihabiskan untuk merakit pesawat ini, lantaran Leo mengaku tak setiap hari mengerjakan pesawatnya. Proses pembuatan dan perakitan badan pesawat hanya dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai montir mobil dan barang-barang elektronik.Leo terobsesi membikin pesawat terbang lantaran bermimpi melihat wilayah Soloraya dari langit. Dia belajar merakit pesawat terbang secara autodidak.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler