Bengkel Disulap Jadi Rumah Semedi di Semarang Digerebek, Ada 11 KK dan Desersi TNI di Dalamnya
Murianews
Kamis, 15 Februari 2018 10:39:25
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Tim yang menjemput sempat terpaksa memanjat tembok tiggi karena rumah sangat tertutup. Rumah itu tertutup pintu lipat, sehingga aktivitas di dalam rumah tidak kelihatan dari luar. Saat petugas bisa masuk ke dalam bangunan itu, tim sangat terkejut.
Ternyata di dalamnya banyak orang. Ada 43 orang dari 11 kepala keluarga (KK) yang tinggal di dalamnya. Belakangan baru diketahui ternyata bekas bengkel itu digunakan untuk rumah semedi/meditasi.
Di dalam rumah itu juga terdapat oknum TNI AL yang desersi. Tak hanya orang dewasa, ada juga anak-anak bahkan bayi di dalamnya. Mereka sudah beberapa bulan berada di rumah itu untuk semedi. Mereka meninggalkan rutinitas kerja dan sekolah.
Dikutip dari detik.com, rumah itu milik Rondiono alias Andi. Menurut dia, sejak tiga bulan terakhir rumah yang merupakan bengkel itu aktivitasnya tertutup. Andi pun lantas dimintai keterangan polisi di Mapolsek Pedurungan.
"Mereka tidak melaksanakn kegiatan, tidak kerja, anak-anak tidak sekolah. Kegiatannya malam hari di dalam." kata Kapolsek Pedurungan, Kompol Mulyadi.
Dari penyelidikan sementara laki-laki yang ada di rumah itu akan memakai sarung saat kegiatan dan bagi wanita memakai kain jarik. Pada malam hari mereka tidak menyalakan lampu, tapi menggunakan lampu minyak.
"Laki-laki dan perempuan dikumpulkan, ada istilahnya tapa rame (bertapa bersama). yang disayangkan itu ada yang desersi kemudian masuk ke sini," ujar Mulyadi.
"Laki-laki dan perempuan dikumpulkan, ada istilahnya tapa rame (bertapa bersama). yang disayangkan itu ada yang desersi kemudian masuk ke sini," ujar Mulyadi.
Sementara Andi mengaku memang menutup aktivitas di dalam rumahnya dari dunia luar. Ia bersama 11 KK melakukan meditasi untuk meninggalkan hal duniawi untuk mencari ketenangan. Ia menyebutnya, kembali ke alam.
Menurutnya, kegiatanya dilakukan sudah tiga bulan dan targetnya minimal selama satu tahun. "Tutup gerbang sudah 3 bulan. Dalam setahun noto awak (menata diri), tidak berinteraksi," akunya.
Namun Andi berkilah tidak menganjurkan anak-anak untuk tidak bersekolah. Tapi kenyataannya 43 orang yang ada di sana melepas kegiatan sehari-harinya, yaitu pria tidak bekerja dan anak-anak tidak sekolah. "Kan ngobrol-ngobrol, ya ditunda setahun (kerja dan sekolahnya)," paparnya.Ia juga mengakui ada desersi TNI AL dari Surabaya yang ikut aktivitasnya. Pengakuannya ia sudah kenal dengan oknum TNI itu selama dua tahun, dan sering bertandang ke tempatnya.
Ia juga mengaku tak mengajarkan kepercayaan apapun. Ia pun membebaskan kelompoknya dalam beribadah sesuai agamanya.
Editor : Ali Muntoha



