Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Para pedagang menyatakan akan terus menggelar demo jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Tuntutan mereka jelas, yakni pemerintah tak akan membubarkan pasar tiban mingguan tersebut untuk selamanya.

Demo ini untuk menyikapi keputusan Pemkot Solo yang mulai membubarkan Sunday Market Manahan berlaku sejak 9 September 2018 mendatang.

Peserta aksi berjalan dari Bundaran Gladak menuju kantor Balaikota Solo dengan membawa spanduk yang beberapa diantaranya bertuliskan “Tolak Penutupan Sunday Market Manahan”. “Sunday Market Bukan Musuh Pemkot”, “Ribuan Nyawa Telah Dikorbankan”.

Dalam orasinya, mereka meminta agar Sunday Market tidak ditutup dan mereka juga siap untuk ditata kembali. Sebab perekonomian ribuan PKL ada di Sunday Market.

Koordinator aksi yang sekaligus Ketua Serikat Pedagang Minggu Pagi Manahan (SPMPM), Joko Santoso atau yang lebih dikenal Yuli De Santos, mengatakan aksi para pedagang sebagai bentuk respons terhadap kebijakan Pemkot menutup Sunday Market selamanya.

“Pada prinsipnya, kami tetap pada pendirian yakni menolak penutupan Sunday Market. Kami tetap ingin eksis dan beroperasi di Sunday Market Manahan,” katanya.

Rencana penutupan Sunday Market Manahan telah membuat resah ribuan pedagang yang selama ini mengadu nasib di pasar tiban setiap Minggu pagi tersebut. Bayang-bayang kehilangan mata pencaharian kini ada di depan mata para pedagang.

Pihaknya juga menolak lokasi relokasi yang ditawarkan Pemkot Solo yakni di CFD Slamet Riyadi, Jalan Ir. Juanda dan Beteng Vasternberg. Menurutnya kebijakan itu sangat tidak berpihak.Pasalnya, saat di Sunday Market Manahan, PKL bisa berjualan dari jam 05.00 -11.00 WIB, jika nanti direlokasi di tiga lokasi tersebut batas berjualan hanya sampai jam 09.00 WIB."Kendala kita jam operasional terbatas sampai jam 09.00 WIB. Padahal di Manahan sampai pukul 11.00 WIB," ujarnya.Selain itu PKL juga enggan disebut sebagai salah satu sebab ekosistem Stadion Manahan Solo terganggu, apalagi rusak. Karena menurutnya, setiap kali habis berjualan, PKL juga membantu membersihkan seputaran lokasi berjualan.Pedagang pun meminta Wali Kota untuk mengkaji ulang penutupan operasional Sunday Market selamanya.“Dampaknya akan sangat jelas bagi kami. Ada 1.500 pedagang yang menggantungkan nasib di sana. Tidak hanya pedagang tapi juga keluarga yang kalau ditotal ada 4.500 jiwa,” katanya.Pedagang tidak mempermasalahkan jika penutupan Sunday Market bersifat sementara. Pedagang pun bersedia ditata asalkan tetap berada di Manahan.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler