Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Seni batik ini sudah diterapkan penganut Rifa’iah di Kalipucang Wetan, Batang, sejak puluhan tahun. Keunggulannya, batik dibuat dengan teknik kuno. Selain itu, yang paling istimewa selama pembuatan batik ini diiringi amalan spiritual, yakni pembacaan salawat.

Salah satu perajin batik Rifa'iah, Mutmainah mengatakan Batik Rifa'iah hanya diproduksi orang-orang penganut Rifa'iah.

Menurut dia pembacaan salawat dilakukan perajin saat membatik. Hal tersebut karena penganut Rifa'iah tidak diperkenankan mendengarkan musik, ataupun radio.

"Karena kami juga masih memegang teguh syariat Islam, maka di batik kami juga tidak ada motif hewan. Yang ada hanya tumbuhan," katanya, Selasa (2/10/2018).

Ia menyebut, salah satu keunggulan batik ini adalah penggunaan teknik kuno dan motifnya pun klasik.

”Masih menggunakan teknik kuno, motif klasik. Dicanting dua sisi. Masih menggunakan minyak kacang, celup. Itu yang membuat warna batik Rifa'iah kuat. Kami masih punya contoh batik berusia sekitar 50 tahun dan masih bagus," ujarnya.

Untuk proses pembuatan, Mutmainah mengaku membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk merampungkan batik pada satu lembar kain. Oleh karenanya, satu lembar batik dibanderol cukup mahal, antara Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta.Keistimewaan batik Rifa'iah ini pun menarik minat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat mengunjungi Batang Expo 2018. Bahkan Ganjar langsung membeli sebanyak tiga potong batik."Saya kebetulan penggemar batik, ini pas Hari Batik Nasional. Saya kolektor batik hampir seluruh Indonesia. Tadi ada batik Rifa'iah, itu menarik betul. Karena tidak hanya coraknya yang bagus, yang nyolet itu ternyata dia sambil salawatan," kata Ganjar.Penggabungan nuansa karya fisik dan spiritual itulah, kata Ganjar, yang membuat batik Rifa'iah tidak bisa ditemukan di tempat lain."Orang konsentrasi membuat batik itu ada spiritual yang didengungkan sambil ngaji. Itu nanti hasil yang akhirnya sangat bagus. Saya tidak tahu, apakah nanti akan cemlorong atau tidak batiknya itu, tapi saya tadi lihat saja hasilnya desainnya sudah sangat menarik," paparnya.Ganjar pun mengakui batik Rifa'iah ini menjadi salah satu contoh batik yang tidak mudah. Dari motif, proses atau bahkan sejarahnya. "Ini rumit, seretnya banyak sekali. Dan ini membutuhkan ketelitian. Ini karya tinggi. Yang mesti kita promot," kata dia.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler