Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Untuk melakukan konversi ini, Pemkot Semarang bekerja sama dengan Pemkot Toyama, Jepang. Ada 72 armada BRT Semarang yang dikonversi menggunakan BBG dalam kerja sama ini.

Launching program converter gas untuk BRT Trans Semarang ini digelar di Hotel Patrajasa Semarang, Rabu (9/1/2019). Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo hadir dalam launching tersebut.

Selain itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Budi Setiyadi, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementrian ESDM Alimuddin Baso, Wali Kota Toyama Jepang Mr Masashi Mori, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi serta Presiden of Hokusan Co Ltd Yamaguchi Masahiro juga hadir.

Ganjar Pranowo memuji langkah Pemkot Semarang yang mulai melirik bahan bakar gas untuk angkutan umum tersebut. Termasuk langkah pemkot yang menggandeng Jepang.

"Kerjasama dengan berbagai pihak harus lebih menukik dan hasil kerjanya konkret. Seperti Kota Semarang ini," kata Ganjar.

Ganjar juga melihat cara berpikir masyarakat yang harus dievaluasi. Karena masih melihat secara subyektif pada pemakaian kendaraan pribadi."Sekarang tidak macet karena ada tol. Tapi, menjadi macet karena banyak yang acaranya mencoba tol. Saya kemarin menikmati perjalanan Surabaya-Semarang hanya tiga jam lebih lima menit," ujarnya.Transportasi yang baik itu, menurut Ganjar, harus didukung alat yang memadai. Termasuk masalah konversi. "Kurangi minyaknya, tetapi gasnya ‘dipolke’ untuk menghasilkan emisi yang ramah," tandasnya.Pemakaian energi tenaga listrik untuk transportasi di Kota Semarang pun, menurutnya perlu dicoba. Seperti yang dilakukan di Jepang. SPBU telah berganti menjadi tempat charger."Semoga, ke depan, di Semarang bisa menaikkan bus dari gas, menjadi listrik. Di Jepang sudah ada bus tenaga listrik dan hidrogen," harapnya.Editor : Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler