Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Iis W Harmoko, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi pada Badan Metrologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang mengatakan, awan berbentuk seperti topi ini disebut awan Lenticularis.

Pada umumnya awan Lenticularis merupakan awan atau kelompok awan seperti piring yang terperangkap di lapisat atmosfer bawah. Disebut terperangkap karena awan Lenticularis umumnya nampak diam pada tempat terbentuknya.

"Jika udara naik tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air tersebut mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung," kata Iis seperti dilansir Solopos.com, Kamis (5/11/2020).

Awan ini terlihat diam karena mulai terbentuk pada sisi datangnya angin di puncak gunung dan menghilang di sisi turunnya angin.

"Saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti. Inilah mengapa awan Lenticularis terlihat diam karena awan mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin (windward side) di puncak gunung kemudian menghilang di sisi turunnya angin (leeward side)," imbuhnya.
Meski demikian, kemunculan awan topi di Gunung Lawu tidak dapat dihubungkan dengan kemungkinan bencana alam. Dia hanya menegaskan bahwa awan itu berbahaya bagi penerbangan."Kemunculan awan Lenticularis ini merupakan pertanda keberadaan gelombang gunung. Gelombang gunung ini akan dapat menyebabkan terbentuknya turbulensi yang berbahaya bagi penerbangan," ujarnya. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News