Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Klaten – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengamankan 40 item usai menggeledah rumah terduga teroris berinisial SH, warga Gading Wetan, Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jumat (2/4/2021).

"Hasil penggeledahan itu, ada 40 item yang dibawa tim Densus. Di antaranya ada buku, catatan-catatan, proposal, dan lainnya,” kata Ketua RT 01 Bono, Sugiyo seperti dikutip Solopos.com, Sabtu (3/4/2021).

Ia menjelaskan, penangkapan yang dulakukan usai salat subuh itu memang membuat warga setempat kaget. Apalagi SH dikenal tetangga sebagai orang baik dan mudah bergaul.

“Pak SH itu teman kecil saya. Saya dan Pak SH sempat duduk di bangku SDN 1 Bono. Dia orangnya pintar. Kalau secara pergaulan, yang bersangkutan baik. Tak ada yang mencurigakan,” terangnya.

SH sendiri merupakan warga asli kelahiran Bono, Klaten, 8 Januari 1970. Setelah dewasa, SH sempat kuliah di Yogyakarta sebelum akhirnya ke Padang. Di tengah masyarakat, SH dikenal sebagi seorang yang baik dan pintar.

SH memiliki dua istri. Dari istri pertama memiliki sembilan anak. Sedangkan istri kedua memiliki tiga anak.  SH baru pulang ke rumahnya sekitar dua tahun terakhir. Di rumahnya, SH mendirikan Tempat Pendidikan Quran (TPQ). Selain SH, TPQ itu dikelola istri dan anak-anaknya. Di samping itu, SH juga berencana mendirikan pondok pesantren di atas lahan 600 meter persegi di Bono.

"Ditangkap saat Subuh di masjid yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahnya. Lalu sore harinya ada penggeledahan di rumahnya. Yang menjadi saksi pak carik. Penggeledahan berlangsung dari Ashar hingga Magrib, " kata Kepala Desa (Kades) Bono, Kecamatan Tulung, Bakdiyono.

"Sehari-hari, yang bersangkutan menjadi pendakwah. Orangnya baik. Saya pribadi enggak curiga sama sekali. Kasus Pak SH apa, saya juga kurang tahu pasti," tambahnya.Hal senada dijelaskan Sekretaris Desa (Sekdes) Bono, Jiyono, (51). Selama Densus 88 Antiteror menggeledah rumah milik SH, Jiyono bersama ketua RT dan ketua RW turut menyaksikan penggeledahan rumah SH oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri.Salah seorang tetangga SH, yakni Agus Sunarna, (55), mengatakan SH juga dikenal sebagai orang yang pintar berbicara. Saat berbincang dengan orang lain, SH sering menelaah pembicaraan orang lain tersebut terlebih dahulu."Saat penggeledahan kemarin menjadi tontonan warga. Banyak yang melihat ke sini, tapi tidak diperbolehkan mendekat. Kemarin ada pak kapolres dan pak dandim juga. Pak SH itu ditangkap setelah Salat Subuh. Tak banyak yang tahu soal penangkapannya karena saat ditangkap banyak orang yang salat di masjid sudah pulang ke rumah masing-masing,” ungkapnya“Saat ditangkap, Pak SH infonya sempat minta ganti baju terlebih dahulu, tapi tak diperbolehkan Densus. Saat penangkapan tak ada perlawanan. Sebelum ditangkap itu, memang banyak orang tak dikenal sering melintas di sini dua hari lalu. Banyak yang war-wer ke sini hingga malam hari. Kami tak tahu mereka siapa, yang jelas bukan warga sini," imbuhnya. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News