Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Semarang – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang mencatat ada 578 anak di Kota Semarang yang terpapar Covid-19 selama pandemi berlangsung. Dari jumlah tersebut lima di antaranya meninggal dunia.

Kepala DP3A Kota Semarang, M Khadik menjelaskan, pada awal pandemi kasus Covid-19 lebih banyak terjadi kepada usia dewasa dan lansia.

Namun seiring berjalannya waktu, di Kota Semarang, tercatat sudah ada 578 anak terpapar Covid-19 dan lima di antaranya meninggal dunia.

"Kalau melihat kasusnya memang cukup besar, tapi akhir-akhir ini Kota Semarang sejak PPKM darurat sudah semakin menurun. Kami berharap akan terus menurun," ucap Khadik seperti dikutip Beritajateng.net, Jumat (23/7/2021).

Saat ini, lanjutnya, Pemkot Semarang sudah berupaya secara maksimal menyediakan tempat isolasi hingga tingkat RT. Dengan adanya tempat itu, anak-anak yang terpapar Covid-19 bisa memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menjalani isolasi.

"Pemkot melalui DP3A selalu memberi penguatan langsung agar anak-anak tangguh dalam menghadapi covid-19," ujar Khadik.

Khadik menegaskan, bagi anak-anak yang terkonfirmasi Covid-19, peran orang tua mendampingi dan menyuport ketika anak-anak terpapar covid-19 sangat penting."Banyak kasus anak-anak yang terpapar melakukan isolasi di tempat karantina dengan di rumah sendiri justru tingkat kesembuhannya lebih cepat di rumah sendiri," ungkapnya.Ia pun berharap, kondisi pandemi bisa digunakan orang tua untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara orang tua dan anak."Jangan sampai pandemi ini membuat anak hanya bergantung gadget, orang tua harus melakukan pendekatan misal dengan permainan tradisional seperti dakon, gangsingan, bola bekel dan sebagainya," tambahnya. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Beritajateng.net

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler