Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Jika benar direalisasikan, kebijakan itu dinilai sangat membahayakan siswa. Apalagi saat ini angka kasus Covid-19 di Jawa Tengah masih terus naik.

Sesuai data dari corona.jatengprov.go.id per Sabtu 1 Agustus pukul 12.00, jumlah kasus positif Covid 19 di Jateng mencapai 9.668 dan 868 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah pasien yang dirawat ada 3.097 orang dan sembuh 5.703 orang.

Baca: Fraksi PPP Minta Pemkab Pati Perbolehkan TPQ Melakukan Pembelajaran Tatap Muka

“Jika kemarin-kemarin sewaktu jumlah kasus masih sedikit, KBM (kegiatan belajar mengajar) di buat daring, eh saat ini ketika kasus melonjak justru akan dibuat tatap muka. Saya kira tidak pas,” ujar Wakil Ketua DPD Partai Gerindra ini melalui surat elektronik, Minggu (2/7/2020).

Menurutnya, Covid-19 tak hanya rentan pada orang dengan usia tua atau yang sudah punya penyakit bawaaan. Namun juga rentan menyerang anak-anak.

Justru anak-anak bisa menjadi orang tanpa gejala dan menularkan Covid-19 pada orang di lingkungannya.

Yudi menjelaskan, pembelajaran daring memang tak efektif jika dibandingkan pembelajaran tatap muka antara guru dan murid. Namun, pembelajaran tatap muka dinilai membahayakan kesehatan siswa.

Baca: Sanksi Dinilai Lemah, Aplikasi Pendidikan Inklusif Jadi LambatPembelajaran tatap muka bisa saja dilakukan dengan catatan angka kasus Covid-19 menurun atau setidaknya tak mengalami lonjakan.Solusinya, lanjutnya, adalah memberikan materi pembelajaran daring dengan lebih baik. Sambil menunggu vaksin yang sedang dibuat oleh pemerintah. Harapannya awal 2021 sudah tersedia.“Konten harus lebih kreatif dan menarik. Guru juga harus diberikan kemampuan itu. Fokusnya lebih dulu pada konten yang lebih baik,” katanya.Sebelumnya, perihal keterbatasan gawai dan kuota internet, Yudi juga telah mengusulkan agar dana BOS digunakan untuk pengadaan keduanya. Lantaran gawai dan kuota internet masuk dalam sarana-prasarana belajar siswa. Reporter: SupriyadiEditor: Suoriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler